Latest Comments

No comments to show.

Jatinangor, 13 Juli 2026 — Potensi ubi jalar madu (honey sweet potato) atau ubi Cilembu sebagai komoditas unggulan Indonesia mendapat perhatian dari pasar internasional. Perwakilan perusahaan Batavia Matsuyama, Jepang, Hajime Matsuyama, mengunjungi Padjadjaran Center for Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE) Universitas Padjadjaran (Unpad) pada Kamis, (9/7) 2026. Tujuan dari kunjungan ini yakni untuk menjajaki peluang pengembangan ubi jalar madu sebagai produk premium bagi pasar Jepang.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari penguatan jejaring dan kolaborasi yang berawal dari kegiatan Wirausaha Muda Padjadjaran dengan pendampingan Direktorat Kemahasiswaan Universitas Padjadjaran. Hajime Matsuyama hadir didampingi Direktur Kemahasiswaan Unpad Inu Isnaeni Sidiq, S.S., M.A., Ph.D., serta Sekretaris Direktorat Kemahasiswaan Gumelar Wibawa Sunda Rukmana, S.E., M.M. Sementara dari PRAISE Unpad, rombongan diterima oleh tim yang diwakili para asisten PRAISE, Fadila Ridara, S.P., M.Agr., Saepul Zamil, S.Agr., dan Imam Ramadhan, S.P.

Dalam pertemuan tersebut, Hajime Matsuyama berdiskusi mengenai potensi pengembangan ubi jalar madu dari perspektif ilmiah sekaligus peluang komersialisasinya di Jepang. Selama ini, Batavia Matsuyama dikenal aktif membangun hubungan perdagangan antara Indonesia dan Jepang, khususnya melalui impor komoditas teh. Kini, perusahaan tersebut mulai melirik komoditas pertanian Indonesia lainnya yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berpotensi diterima oleh konsumen Jepang.

Ubi jalar madu menjadi salah satu komoditas yang menarik perhatian karena memiliki karakteristik khas berupa rasa manis alami, aroma yang kuat, serta kualitas yang semakin baik dengan keluarnya cairan seperti madu setelah dipanggang. Menurut Hajime Matsuyama, karakteristik tersebut sesuai dengan budaya konsumsi ubi jalar yang telah lama berkembang di Jepang.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa untuk memasuki pasar Jepang, produk pangan harus memenuhi berbagai persyaratan yang ketat. Beberapa aspek yang menjadi perhatian antara lain konsistensi kualitas produk, keamanan pangan, sistem ketertelusuran (traceability), serta penerapan budidaya yang berkelanjutan. Salah satu kebutuhan utama yang disampaikan adalah pengembangan ubi jalar madu melalui pendekatan pertanian organik agar sesuai dengan preferensi konsumen Jepang terhadap produk pangan berkualitas tinggi.

Menanggapi hal tersebut, PRAISE Unpad memperkenalkan berbagai kegiatan riset dan inovasi yang selama ini dikembangkan dalam bidang ubi jalar. Diskusi mencakup pengelolaan plasma nutfah, pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas unggul, evaluasi karakter agronomi dan kualitas hasil, teknologi budidaya, hingga strategi peningkatan nilai tambah ubi jalar Indonesia agar mampu bersaing di pasar internasional.

Melalui kunjungan ini, Hajime Matsuyama berharap terbangun kerja sama yang berkelanjutan antara Batavia Matsuyama, Universitas Padjadjaran khususnya PRAISE, peneliti, dan pelaku usaha di Indonesia dalam membangun rantai nilai ubi jalar madu yang mampu memenuhi standar ekspor Jepang. Harapannya, ubi jalar madu tidak hanya dikenal sebagai produk unggulan lokal, tetapi juga berkembang menjadi komoditas premium Indonesia yang memiliki daya saing di pasar global.

Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, dan mitra internasional dalam mendorong hilirisasi hasil riset. Kerja sama antara Direktorat Kemahasiswaan Unpad, PRAISE Unpad, dan Batavia Matsuyama diharapkan dapat membuka peluang lebih luas bagi produk pertanian unggulan Indonesia untuk menembus pasar dunia. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan sistem pangan yang berkelanjutan, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan nilai tambah dan peluang ekspor komoditas pertanian, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi strategis antara akademisi, industri, dan mitra internasional. Dengan menghubungkan hasil riset, inovasi, dan akses pasar global, kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi petani sekaligus meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia di pasar internasional.

Unpad’s Honey Sweet Potato Attracts Japanese Importer, Opening New Export Opportunities

Jatinangor, 13 July, 2026 — The potential of honey sweet potato, commonly known as Cilembu sweet potato, as one of Indonesia’s premium agricultural commodities has attracted growing international interest. Hajime Matsuyama, a representative of Batavia Matsuyama, Japan, visited the Padjadjaran Center for Sweet Potato Research and Innovation Excellence (PRAISE), Universitas Padjadjaran (Unpad) on 9 July 2026 to explore opportunities for developing honey sweet potato as a premium product for the Japanese market.

The visit was part of an initiative to strengthen international networking and collaboration, building upon the Padjadjaran Young Entrepreneurs Program under the guidance of the Directorate of Student Affairs, Universitas Padjadjaran. Hajime Matsuyama was accompanied by Inu Isnaeni Sidiq, S.S., M.A., Ph.D., Director of Student Affairs, and Gumelar Wibawa Sunda Rukmana, S.E., M.M., Secretary of the Directorate of Student Affairs. The delegation was welcomed by the PRAISE team, represented by research assistants Fadila Ridara, S.P., M.Agr, Saepul Zamil, S.Agr., and Imam Ramadhan, S.P.

During the meeting, Hajime Matsuyama discussed the scientific potential of honey sweet potato as well as its commercial prospects in Japan. Batavia Matsuyama has long been recognized for promoting trade between Indonesia and Japan, particularly through the import of Indonesian tea products. The company is now expanding its interest to other high-value Indonesian agricultural commodities with strong market potential in Japan.

Honey sweet potato attracted particular attention because of its distinctive characteristics, including its naturally sweet flavor, rich aroma, and the honey-like syrup that emerges during baking. According to Hajime Matsuyama, these unique qualities closely match Japan’s long-established sweet potato consumption culture and consumer preferences.

However, he emphasized that entering the Japanese market requires compliance with stringent food quality standards. Key requirements include consistent product quality, food safety, traceability, and the implementation of sustainable cultivation practices. One of the primary recommendations was the development of honey sweet potato through organic farming systems to meet the growing demand among Japanese consumers for premium, environmentally responsible food products.

In response, PRAISE introduced its ongoing research and innovation programs in sweet potato development. The discussion covered germplasm conservation, plant breeding for superior varieties, evaluation of agronomic performance and quality traits, cultivation technologies, and strategies to enhance the added value and international competitiveness of Indonesian sweet potato products.

Through this visit, Hajime Matsuyama expressed his hope for establishing a long-term partnership among Batavia Matsuyama, Universitas Padjadjaran—particularly PRAISE—researchers, and Indonesian agribusiness stakeholders to develop a honey sweet potato value chain that meets Japanese export standards. The shared vision is for honey sweet potato to become not only a distinguished local specialty but also a premium Indonesian commodity with strong competitiveness in global markets.

This collaboration also represents a strategic effort to strengthen synergies among universities, industry, and international partners in accelerating the downstream commercialization of research outcomes. The partnership between the Directorate of Student Affairs, PRAISE, and Batavia Matsuyama is expected to create broader opportunities for Indonesia’s high-value agricultural products to enter international markets.

Furthermore, this initiative supports the United Nations Sustainable Development Goals (SDGs), particularly SDG 2 (Zero Hunger) by promoting sustainable food systems, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) through increased value addition and export opportunities for agricultural commodities, and SDG 17 (Partnerships for the Goals) by fostering strategic collaboration among academia, industry, and international partners. By connecting research, innovation, and global market access, this partnership is expected to generate sustainable economic benefits for farmers while enhancing the global competitiveness of Indonesia’s agricultural products.

CATEGORIES:

News

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *